Kautsar

إن كنت لا تعلم فتلك مصيبة وإن كنت تعلم فالمصيبة أعظم

  • Bookmark & Enjoy

    Bookmark and Share
  • Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

    Bergabunglah dengan 328 pengikut lainnya

  • Follow Kautsar on WordPress.com
  • Al Qur’an Kalamullah

  • Waktu Shalat Hari Ini

  • Radio Online

  • Kautsar’s Blog On Facebook

  • Y!M Status

    : admin1 : admin2
  • Follow | Kautsar On Twitter

  • Didukung Oleh :

  • Anda pendatang ke...

    • 2,031,073 kali
  • HTML hit counter - Quick-counter.net
  • 100 Blog Indonesia Terbaik
  • KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia
  • Local Business Directory - BTS Local
  • TopOfBlogs
  • Personal Blogs - Blog Rankings
  • Blog directory
  • Blogger SMA Terbaik Indonesia
  • Top 10
  • Bloggerian Top Hits
  • Submit Blog
  • DigNow.net
  • Statistik

  • Kautsarku.wordpress.com website reputation
  • Taklim

    Tegar Di Atas Sunnah Dimasa Fitnah 02 Mp3

Sebab-sebab Adanya Hadits Maudhu’ (Hadits Palsu) Di Kalangan Kaum Muslimin

Posted by Abahnya Kautsar pada 27 Juli 2012

Bulan ramadhan adalah bulan mulia bulan yang diberkahi, semestinya kita berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan dan amal shalih. Menyampaikan kebenaran, berwasiat taqwa, dan saling menasehati sesama muslim. Menyampaikan al Qur’an dan Al Hadits dengan cara yang hikmah, hikmah dalam tinjauan bahwa apa yang disampaikan benar-benar bijak dan tidak menyampaikan atau menukilkan kecuali hanya nukilan yang shahih semata.

Akan tetapi sungguh karena telah teramat jauhnya kaum muslimin dari zaman kenabian, banyak sampai kepada kita nukilan-nukilan yang ternyata jika kita teliti lebih lanjut, ternyata bukanlah yang disampaikan itu adalah hadits yang shahih atau tafsir al Qur’an sebagaimana ditafsirkan oleh para shahabat.

Sebagaimana misalnya, ketika kita mendapati seorang mubaligh berceramah selepas shalat isya’ dengan materi yang disampaikan adalah keutamaan shalat tarawih, dengan kemudian menyebutkan fadhilah/keutamaan bagi siapa saja yang shalat tarawih tiap malamnya, masing-masing malamnya akan mendapatkan pahala demikian dan demikian. Yang hal seperti ini bagi thalabul ilm, akan dengan mudah diketahui bahwa yang disampaikan itu adalah bukanlah hadits dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan tetapi hanya perkataan seseorang yang kemudian disandarkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan menggunakan nama salah satu shahabat Nabi sebagai periwayat dan juga salah satu imam ahli hadits sebagai redaksi hadits.

Pertanyaannya, kenapa bisa ada hadits dha’if atau palsu di kalangan kaum muslimin?

Sebelum menuju jawaban, marilah kita sedikit belajar kembali mengenai ilmu mushthalahul hadits (ilmu yang mempelajari tentang hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam baik itu riwayah maupun dirayah) atau juga dikenal dengan istilah ‘Ulumul Hadits.

Hadits matruk (ditinggalkan/tidak dianggap)

Hadits matruk adalah tingkatan paling buruk dari tingkatan-tingkatan periwayatan hadits, dikarenakan periwayat tersebut adalah pendusta dan juga seorang seorang yang ditinggalkan/matruk (tidak diambil ilmunya) dan juga riwayat tersebut tidak dapat dijadikan sebagai penguat untuk riwayat lainnya (ayawahid ataupun mutaba’ah).

Dan tuduhan dusta itu dikarenakan beberapa sebab:

  1. Dikarenakan riwayat yang dibawa menyelisihi ushul syari’at, mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram yang mana semua itu berasal dari perawi itu.
  2. Dikarenakan ia dikenal sering berdusta pada selain hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bagaimana mungkin diterima sedangkan dalam pembicaraan biasa saja sering berdusta apalagi dalam membicarakan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  3. Dikarenakan perawi tersebut seringnya mukhalafah (menyelisihi) periwayat lainnya dalam sebagian besar riwayatnya.

Selanhjutnya Hadits maudhu’ adalah tingkatan lebih buruk lagi, karena sebagaimana definisinya hadits maudhu’ adalah hadits yang diada-adakan oleh seorang perawi. Dan sebagian ahli hadits tidak memasukkannya dalam penyebutan hadits dan mencukupkan dengan kalimat maudhu’ (palsu) saja dikarenakan hadits ini bukanlah merupakan perkataan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sebab-sebab adanya hadits maudhu’ (hadits palsu) di kalangan kaum muslimin

  1. Adanya seorang zindiq (seorang yang pura-pura masuk Islam) yang mengaku-aku sebagai seorag muslim kemudian merusak Hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan memalsukan hadits (membuat perkataan menyerupai hadits) kemudian menyandarkannya kepada shahabat kemudian kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  2. Sebagian lainnya dilakukan untuk mendukung madzhab mereka atau kalangan mereka, sebagaimana dilakukan oleh kalangan Khaththobiyah, yaitu kelompok yang dinasabkan kepada Abul Khaththab Al Asadi.
  3. Sebagian lagi mereka memalsukan hadits untuk mendapatkan kedudukan di sisi para khalifah dan penguasa, sebagaimana yang dilakukan oleh Gihyats bin Ibrahim An Nakha’i, dimana ia memalsukan hadits untuk menyenangkan Khalifah Al Mahdi.
  4. Sebagian lagi digunakan untuk mencari kekayaan, ketenaran dan lainnya dari kenikmatan dunia.
  5. Di antaranya lagi, mereka memalsukan hadits untuk dijadikan dalil dari semua yang mereka fatwakan dari pendapat-pendapat mereka.
  6. Sebagian lainnya, dikarenakan niat mereka untuk mengajak kepada amal shalih dan ibadah-ibadah dengan memalsukan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.[1]
  7. Ada pula yang menukilkan perkataan orang-orang bijak, baik itu dari kalangan shahabat, tabi’in atau tabi’ tabi’in atau setelah mereka, lantas menyandarkan perkataan tersebut kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.
    semisal hadits: “Kecintaan kepada dunia adalah sumber segala kesalahan.” Dimana ini sebenarnya merupakan perkataan Malik bin Dinar.
  8. Ada pula di antara mereka yang tidaklah berkeinginan untuk memalsukan hadits, hanya saja terjadinya hal tersebut karena kelalaian atau kekeliruan dalam mendengarkan suatu hadits.
    Semisal hadits yang diriwayatkan oleh Tsabit bin Musa Az Zahid, dari Syarik dari Al ‘Amasy dari Abu Sufyan dari Jabir, secara marfu’; “Barangsiapa yang memperbanyak shalat di malam hari, wajahnya akan terlihat indah di siang hari.”
    Hadits ini tidak dijumpai asalnya secara marfu’, dan Tsabit tidaklah bermaksud memalsukan hadits, hanya saja ketika beliau memasuki majlis imla’ Syarik bin Abdullah Al Qardhi, pada saat beliau tengah menyebutkan sanad: diceritakan kepada kami Al A’masy dari Abu Sufyan dari Jabir dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan belumlah menyebutkan matan hadits, yang bunyinya: “Bahwa syaithan mengikat pada tengkuk salah seorang di antara kalian..”. maka berkata ketika memandang ke wajah Tsabit: Barangsiapa yang memperbanyak shalat di malam hari…, yang mana ucapan ini adalah ditujukan untuk Tsabit, karena zuhud, waro’ dan ibadahnya, bersamaan dengan sanad yang telah ia sebutkan. Maka Tsabit menyangka ucapan yang hanya ditujukan kepadanya itu adalah bagian dari sanad, lantas ia pun meriwayatkan seperti yang ia sangkakan.

Beberapa cara untuk mengetahui sebuah hadits adalah merupakan hadits palsu (maudhu’)

  1. Menyelisihi Al Qur’an dan As Sunnah Ash Shahihah dalam hukum dan lafazhnya.
  2. Lafazh hadits yang berlebihan dalam penentuan pahala bagi suatu amalan dan pula sebaliknya.
  3. Makna yang fasid dan bathil dikarenakan menyelisihi akal dan syari’at.
    Misalnya perkataan Ar Rabi’ bin Khutsaim bin ‘Aidz Abu Yazid Al Kufi: “Sesungguhnya hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam memiliki cahaya bagaikan cahaya malam hari, dan diketahui kegelapan semisal kegelapan malam yang engkau ingkari.”
  4. Pengakuan dari Al Wadho’ (pemalsu hadits) sendiri disertai qarinah/indikasi yang kuat atas benarnya pengakuan dia.
    Semisal penyebutan syaikh yang ia meriwayatkan dari syaikh itu, namun ketika ditanyakan tentang tahun wafatnya syaikh tadi, ia menyebutkan tahun yang mana mustahil baginya berjumpa dengan syaikh itu, dikarenakan ia meninggal jauh sebelum perawi itu dilahirkan.

Akan tetapi, khabar maudhu’ yang banyak dimasukkan ke dalam periwayatan hadits nabawi, tidaklah menjadikan syariat Islam yang putih bersih ini menjadi ternoda, dikarenakan Allah Subhanahu wa ta’ala telah menjanjikan untuk menjaga syariat Islam ini selamanya.

Berkata Al Imam Ibnul Mubarak rahimahullah sewaktu dikatakan kepada beliau: “Inilah hadits-hadits yang telah dibuat-buat (maudhu’)..?!” Beliau berkata: “Akan selalu ada para ulama-ulama ahli hadits yang akan menyingkap semuanya, Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَ إِنَّا لَهُ لَحَافِظُوْنَ

“Sesungguhnya Kami yang telah menurunkan Adz Dzikr dan Kami pulalah yang akan menjaganya.”

Wallahu A’lam wa Ahkam

 

Buku Rujukan: Syarah Al Manzhumah Al Baiquniyyah, Abu Zakariyya Al Atsary dengan penyesuaian bahasa oleh Abahnya Kautsar.


  1. Dan beranggapan bahwa kedustaan yang diancam dengan adzab neraka adalah kedustaan dalam mengajak kepada kesesatan. Mereka menukilkan suatu hadits,
    من كذب على ليضل الناس فليتوأ مقعده من النار
    “Barangsiapa yang berdusta kepada-ku untuk mengajak kepada kesesatan, maka ia telah menyiapkan tempat duduknya di api neraka.”
    Adapun lafazh: “Mengajak kepada kesesatan…”, telah sepakat para Imam Ahlul Hadits bahwa lafazh itu adalah lafazh yang munkar.
    Lafazh itu diriwayatkan dari dua sanad, salah satu dari sanad itu ada perawi yang bernama Muhammad bin Ubaidillat Al Urzumi, seorang yang matruk (ditinggalkan haditsnya) serta sanad lainnya ada perawi yang bernama Abdul Karim bin Abi Makhoriq yang mana ia adalah seorang yang lemah (dhaif).

===
Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: