Kautsar

إن كنت لا تعلم فتلك مصيبة وإن كنت تعلم فالمصيبة أعظم

  • Bookmark & Enjoy

    Bookmark and Share
  • Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

    Bergabunglah dengan 328 pengikut lainnya

  • Follow Kautsar on WordPress.com
  • Al Qur’an Kalamullah

  • Waktu Shalat Hari Ini

  • Radio Online

  • Kautsar’s Blog On Facebook

  • Y!M Status

    : admin1 : admin2
  • Follow | Kautsar On Twitter

  • Didukung Oleh :

  • Anda pendatang ke...

    • 2,031,073 kali
  • HTML hit counter - Quick-counter.net
  • 100 Blog Indonesia Terbaik
  • KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia
  • Local Business Directory - BTS Local
  • TopOfBlogs
  • Personal Blogs - Blog Rankings
  • Blog directory
  • Blogger SMA Terbaik Indonesia
  • Top 10
  • Bloggerian Top Hits
  • Submit Blog
  • DigNow.net
  • Statistik

  • Kautsarku.wordpress.com website reputation
  • Taklim

    Tegar Di Atas Sunnah Dimasa Fitnah 02 Mp3

Mengeraskan Ucapan “Takbir” Setelah Shalat Fardhu

Posted by Kautsar pada 1 Juni 2013

Faidah: Hukum Mengeraskan ucapan “takbir” setelah shalat fardhu

Dari Ibnu Juraij dia berkata Amru mengabarkan kepada kami bahwa Abu Ma’bad maula Ibnu Abbas mengabarkan kepadanya bahwa Ibnu Abbas radhiallahu ’anhuma mengabarkan kepadanya bahwa beliau mengeraskan suaranya dalam membaca dzikir ketika orang-orang selesai dari mengerjakan shalat wajib, dan hal tersebut di masa Nabi shallallahu ’alaihi wasallam. Ibnu Abbas berkata, ”Saya mengetahui bilamana mereka selesai dari shalat itu apabila mendengar dzikir tersebut.”
(HR. Al-Bukhari no. 805 dan Muslim no. 583)
Dan pada riwayat lainnya dari Ibnu Abbas, “Kami mengetahui selesainya shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan bacaan “takbir”. “
(HR. Al-Bukhari no. 806 dan Muslim no. 583)
Hadits tersebut diatas juga diriwayatkan oleh Ahmad di dalam al-Musnad 1/222, asy-Syafi’i di dalam al-Musnad hal. 44, Abu Dawud 1/226, an-Nasa`i di dalam as-Sunan 3/67, Ibnu Hibban di dalam ash-Shahih 5/610, ath-Thabrani di dalam al-Ausath 2/187 dan al-Kabir 11/335.
Para ulama dalam menafsirkan hadits ini terdapat perbedaan pendapat, antara yang berpegang dengan zhahir hadits (konteks hadits secara eksplisit) dan diantara mereka juga –bahkan pendapat ini merupakan pendapat mayoritas ulama- menafsirkan hadits tersebut menyelisihi zhahir hadits.

Dalam hal ini semisal Imam asy-Syafi’i, di dalam kitab beliau al-Umm 1/127 beliau mengatakan, “Saya lebih memilih bagi imam dan makmum untuk berdzikir kepada Allah setelah menyelesaikan shalat. Dan keduanya melakukan dzikir tersebut dengan suara lirih kecuali jika dia sebagai imam yang diharuskan untuk memberi pengajaran akan –bacaan- dzikir, maka dia dapat mengeraskan suaranya hingga dia menyangka telah memberi pengajaran tentang bacaan dzikir barulah imam tersebut membacanya dengan lirih. Karena Allah subhanahu wata’ala berfirman,

“Dan janganlah engkau menjaharkan doamu dan janganlah engkau membaanya dengan suara sangat lirih” yaitu –wallahu a’lam- bacaan doa. Firman Allah, “janganlah menjaharkannya” yaitu mengeraskan suara. Dan firman Allah “dan janganlah membacanya dengan suara sangat lirih,” yaitu hingga dirimu sendiri tidak mendengarnya.”

Berkaitan dengan hadits Ibnu Abbas diatas, beliau –Imam asy-Syafi’i- lalu berkata, ”Menurut persangkaan saya, beliau hanya mengeraskan suaranya sedikit untuk memberi pengajaran kepada kaum muslimin akan bacaan dzikir tersebut, Hal itu dikarenakan seluruh riwayat yang telah salin dan juga selainnya tidak menyebutkan setelah salam adanya bacaan ”tahlil” dan juga ”takbir”. Dan beliau telah menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wasallam membaca dzikir setelah shalat sebagaimana yang saya sifatkan dan juga disebutkan berpalingnya beliau shallallahu ’alaihi wasallam tanpa dzikir sama sekali.

Ummu Salamah menyebutkan berdiamnya beliau shallallahu ’alaihi wasallam dan tidak menyebutkan dzikir beliau dengan suara yang dijaharkan. Dan menurut saya beliau tidaklah berdiam diri kecuali melakukan dzikir tanpa dijaharkan…”
Lalu beliau melanjutkan lagi, ”Dan saya menyenangi imam berdzikir sejenak di tempat duduknya sebatas kadar waktu berpalingnya kaum wanita sebagaimana yang disebutkan oleh Ummu Salamah, setelah itu barulah imam berdiri. Apabila imam berdiri sebelum itu atau duduk lebih lama dari kadar waktu itu, maka tidak mengapa.”

Hadits Ummu Salamah yang diisyaratkan oleh Imam asy-Syafi’i adalah shahih yang diriwayatkan oleh al-Bukhari di dalam ash-Shahih beliau no. 849 dan 850. Dan juga terdapat keterangan yang serupa dari Imam az-Zuhri.

Al-Hafizh Ibnu Hajar di dalam Fathul Bari 2/420-421 menyebutkan perbedaan pendapat dalam memahami hadts ini dikalangan ahlil-ilmi. Beliau berkata,
” … Pada hadits tesebut terdapat keterangan bolehnya seseorang menjaharkan dzikir setelah shalat.
Ath-thabari berkata, ”Pada hadits tersebut terdapat penjelasan keabsahan amalan takbir yang dilakukan oleh para pemimpin di akhir shalat.”
Namun Ibnu Baththal menanggapi hal tersebut bahwa beliau tidak mengetahui seorangpun dari ulama as-Salaf yang melakukannya kecuali yang dihikayatkan dari Hubaib di dalam al-Wadhihah, bahwa mereka menyukai takbir di dalam pasukan perang setiap selesai shalat shubuh dan isya` sebanyak tiga kali dengan suara yang dikeraskan. Beliau berkata, ”Dan amalan tersebut amalan yang telah ada sejak dahulu dari kalangan kaum muslimin.”

Ibnu Baththal di dalam al-’Atabiyah meriwayatkan dari Malik bahwa perbuatan itu adalah perbuatan muhdats (bid’ah yang diada-adakan). Beliau berkata, ”Dan pada konteks hadits menyiratkan bahwa sahabat tidaklah mengeraskan suara mereka disaat berdzikir pada waktu dimana Ibnu Abbas mengatakan hal tersebut.”

Saya –Ibnu Hajar- berkata, ”Pembatasan dengan penyebutan sahabat perlu ditinjau ulang, karena sahabat disaat itu masih sedikit.” an-Nawawi mengatakan, ”Asy-Syafi’i menginterpretasikan hadits ini, bahwa mereka mengeraskan suara mereka hanya pada masa yang pendek untuk mengajarkan tata cara dzikir. Dan tidaklah mereka terus menerus mengjaharkan dzikir tersebut. Pendapat yang terpilih bahwa imam dan makmum berdzikir dengan suara yang lirih kecuali jika menghendaki pengajaran.”
(Lihat juga di dalam Syarh Muslim an-Nawawi 5/84 dan Fathul Bari 6/135)

Adapun kalangan ahlil-ilmi yang mengamalkan hadits ini secara kontekstual, menyebutkan bahwa mengeraskan suara ”takbir” setelah selesai dari pengerjaan shalat fardhu adalah amalan yang sunnah.

Mereka juga menyebutkan bahwa yang termasuk sunnah pula, adalah bertakbir sebanyak tiga kali sambil mengeraskan suara.
Imam Abu Muhammad Ibnu Hazm rahimahullah di dalam al-Muhalla 4/260 mengatakan, ”Dan mengeraskan suara disaat bertakbir setiap akhir shalat adalah perbuatan yang baik.”
Demikian juga pendapat imam ath-Thabari sebagaimana telah disinggung sebelumnya.

Berkaitan dengan hadits Ibnu Abbas ini, as-Suyuthi di dalam syarh beliau terhadap Sunan an-Nasa`i 3/64 demikian juga al-‘Azhiem Abadi di dalam ‘Aun al-Ma’bud 3/212 menerangkan, “(Dari Ibnu Abbas, beliau berkata bahwa beliau mengetahui berakhirnya shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan adanya takbir.) yaitu setelah selesainya shalat.
Dan pada riwayat berikutnya, “dengan dzikir” dan riwayat ini lebih umum dari penyebutan “takbir” dan “takbir” lebih khusus, dan merupakan tafsiran lafazh yang lebih umum.
Lalu beliau melanjutkan, “(Hal itu di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) yaitu di zaman beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, maka berlaku baginya hukum rafa’.

Dengan demikian dapatlah diketahui bahwa masalah “takbir” setelah shalat dengan mengeraskan suara, termasuk diantara masalah fiqhiyah yang diperselisihkan oleh kalangan ahlil-ilmi. Mayoritas ulama sebagai yang dikutip oleh al-Hafizh di dalam al-Fath, an-Nawawi di dalam Syarh Muslim dan selain keduanya. Demikian juga Imam asy-Syafi’i di dalam al-Umm memahami mengeraskan suara tersebut jika imam hendak memberikan pengajaran kepada makmum tentang perihal dzikir setelah shalat.

Sementara beberapa ulama lainnya, semisal Ibnu Hazm rahimahullah, menerima kandungan hadits tersebut sesuai dengan konteks zhahir hadits Yakni disenanginya mengeraskan “takbir” seiring dengan selesainya shalat. Pada riwayat Imam Ahmad dari hadits Ibnu Abbas, dari jalan Sufyan dari ‘Amru terdapat tambahan, “Berkata Amru, saya berkata kepadanya, “Sesungguhnya kaum muslimin, apabila imam telah selesai salam dari shalat yang wajib mereka bertakbir sebanyak tiga kali, …”

Demikian juga diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa beliau menafsirkan hadits yang beliau riwayatkan tersebut (yaitu hadits mengeraskan suara dengan takbir), dengan amalan beliau sendiri. Dimana beliau apabila selesai mengerjakan shalat beliau bertakbir dengan tiga kali takbir
Hal serupa juga diriwayatkan dari Umar bin Abdil Azis seperti yang disebutkan oleh Ibnu Sa’ad di dalam thabaqat beliau. Dan diriwayatkan juga dari Mush’ab bin az-Zubair.
Dan amalan inilah yang sesuai dengan zhahir hadits Ibnu Abbas.

Adapun berkenaan dengan larangan mengeraskan suara ketika berdzikir setelah selesai shalat, yang dimaksud adalah bacaan dzikir lainnya (selain takbir tiga kali ini) dan bacaan doa.
Sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits Aisyah pada ash-Shahihain berkaitan dengan firman Allah pada surah al-Isra`: 11, beliau radhiallahu ’anha mengatakan, ”ayat ini turun berkaitan dengan doa”
Inilah yang oleh sebagian ulama dianggap sebagai bid’ah muhdatsah, yaitu mengeraskan doa setelah shalat. Seperti yang diriwayatkan dari al-Hasan, Sa’id bin al-Musayyib, Abidah as-Salmani dan selainnya.
Ataukah yang dimaksud larangan mengeraskan suara disaat dzikir dan perintah untuk mengerjakannya dengan suara lirih seperti pada surah al-A’raf: 55 dan 205, serta beberapa hadits dari Nabi shallallahu ’alaihi wasallam, yaitu larangan mengeraskan suara dengan suara yang sangat keras.

Demikian secara ringkas berkaitan dengan masalah ini, untuk lebih jelasnya dapat dirujuk pada kitab yang diisyaratkan diatas, juga pada Fathul Bari karya Ibnu Rajab, al-Muhalla karya Ibnu Hazm, syarh Sunan an-Nasa’i karya as-Suyuthi, Aunul Ma’bud syarh Sunan Abu Dawud, dan selainnya. Wallahu ’alam bish-shawab.

[Ditulis oleh Al Ustadz Abu Zakaria Al Makassari hafizhahullah]

Artikel Lainnya:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: