Kautsar

إن كنت لا تعلم فتلك مصيبة وإن كنت تعلم فالمصيبة أعظم

Kitab Al-Adab : Adab ketika tidur (1)

Posted by Abahnya Kautsar pada 3 September 2008

Bab Adab ketika tidur

Allah Subhanahu wa Ta`ala berfirman:

“Dan termasuk dari ayat-ayat Kami (yaitu) waktu tidur kalian di malam hari dan waktu kalian mengusahakan (mencari) karunia (rizki)-Nya di siang hari. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekusaan-Nya bagi kaum yang mereka mau mendengar.” (Ar Ruum: 23)

Allah Subhanahu wa Ta`ala juga berfirman:

“Dan Kami jadikan tidur kalian sebagai istirahat” (An-Naba`: 9)

Berkata Al-Barra` bin Azib Radhiallahu ‘anhu: Bersabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam:

“Jika engkau mendatangi tempat tidurmu maka hendaklah berwudhu sebagaimana wudhumu ketika hendak shalat, kemudian tidurlah di atas rusuk sebelah kanan kalian, kemudian berdoalah: ‘Ya Allah, aku serahkan diriku kepada-Mu dan aku kembalikan urusan-urusanku kepada-Mu…al-hadits.”[1]

Di antara adab-adab ketika hendak tidur yaitu:

  1. Menutup pintu dan mematikan api serta lampu sebelum tidur.

Diriwayatkan dari hadits Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu, Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:

“Matikanlah lampu-lampu pada malam hari ketika engkau hendak tidur dan tutuplah pintu-pintu,…”[2] Dan dalam satu riwayat: “Tutuplah pintu-pintu dan matikanlah lampu-lampu, karena sesungguhnya al-fuwaisaqah – tikus- bisa jadi akan mneyenggol sumbu lampu yang masih menyala dan membakar rumah penghuninya.”[3]

Dan diriwayatkan dari hadits Ibnu Umar radhiallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jangan biarkan api masih menyala dalam rumahmu ketika engkau beranjak tidur”[4]

Dalam atsar sebelumnya telah disebutkan tentang perintah untuk mematikan lampu serta api yang menyala dan menutup pintu. Kemudian apakah perintah tersebut sifatnya wajib atau sekedar sunnah atau sekedar pengarahan saja. Terjadi perbedaan pendapat dikalangan ulama dalam hal ini.

Sebab perintah mematikan api dan lampu tiada lain karena khawatir api itu bisa menyebar dan akan dapat membakar penghuninya. Sebab ini dijelaskan dalam sebuah hadits , dimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

“Karena bisa jadi al-fuwaisaqah – yaitu tikus – akan menyenggol sumbu lampu yang tetap menyala dan membakar rumahnya.”

Berkata Al-Qurthubi -rahimahullah- : “Di dalam hadits-hadits ini bahwa salah seorang jika tidur di rumahnya sendirian dan terdapat api yang masih menyala maka hendaklah ia mematikannya terlebih dahulu sebelum ia tidur, atau melakukan sesuatu yang memberi jaminan bahwa nyala api tidak membakarnya, demikian juga apabila di rumah tersebut terdapat banyak orang, maka sebagian diantara mereka menjadi wajib untuk mematikan lampu tersebut ketika hendak tidur, ataukah yang palingberhak untuk mematikannya adalah yang paling akhir tidur. Maka barang siapa yang lalai dalam perkara ini maka dia telah menyelisihi sunnah dan bisa dianggap sebagai orang yang telah meninggalkan sunnah.[5]

Adapun tentang perintah menutup pintu-pintu sebelum tidur, maka terdapat dalam riwayat Muslim dari hadits Jabir Radhiallahu ‘anhu:

“Dan tutuplah pintu-pintu, dan sebutlah nama Allah, karena sesungguhnya syaithan tidak akan bisa membuka pintu yang telah tertutup.”[6]

Berkata Ibnu Daqiiq Al-‘Ied –rahimahullah- : Perintah menutup pintu ini terdapat maslahat baik secara sya`ri maupun secara duniawiyah di antaranya adalah menjaga diri dan hartanya dari orang-orang yang berkelakuan buruk dan dari pelaku kejahatan. Terlebih lagi dari gangguan syaithan. Adapun sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

“Karena sesungguhnya syaithan tidak akan bisa membuka pintu yang telah tertutup.”

Menyiratkan bahwa perintah untuk menutup pintu terdapat maslahat yaitu menjauhkan syaithan agar tidak bercampur baur dengan kaum manusia. Dan secara khusus adalah sebagai bentuk kehati-hatian karena takut terhadap apa-apa yang tidak tampak baginya, kecuali dari tuntuanan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam …[7]

Masalah: Jika api telah diamankan dan telah dilakukan segala sebab untuk menghindari agar tidak terjadi kebakaran. Maka apakah boleh dikatakan untuk meninggalkan api serta lampu-lampu tanpa mematikannya?

Jawab: Jika telah aman dari hal seperti itu…, maka tidak mengapa untuk tidak mematikannya. Karena sebab perintah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mematikan api serta lampu dalam hadits diatas karena al-fuwaisaqah – tikus – akan menyebabkan nyala api membakar rumah sipemilik, namun apabila sebab tersebut telah hilang maka larangan tersebut juga telah tertiadakan. Demikian yang dikatakan oleh Al-Imam An-Nawawi –rahimahullah-.[8]

  1. Berwudhu sebelum tidur

Al-Barra` bin Azib radhiallahu ‘anhu mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Jika engkau hendak mendatangi tempat tidurmu maka hendaklah engkau berwudhu sebagaimana wudhumu untuk shalat…al-hadits.”[9]

Wudhu yang diperintahkan disini tidak menunjukkan suatu kewajiban akan tetapi hanyalah menunjukkan suatu amalan yang sunnah saja bagi siapa saja yang hendak tidur. Salah satu riwayat Ahmad menguatkan akan hal itu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:

“Jika engkau mendatangi tempat tidurmudalam keadaan yang suci….”[10]

Maka jika telah berwudhu dan maka telah cukup baginya karena maksud wudhu tersebut adalah agar selama tidurnya dalam keadaan suci dikarenakan khawatir apabila ia meninggal dunia dimalam itu dan agar dijadikan pada mimpinya kebaikan dan agar dijauhkan dari godaan dan gangguan syaithan didalam tidurnya. Demikian perkataan Al-Imam An-Nawawi –rahimahullah-.[11]

  1. Membersihkan tempat tidur sebelum merebahkan diri diatasnya

Termasuk dari petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika hendak tidur adalah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membersihkan tempat tidurnya dengan sarungnya tiga kali sebelum beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam merebahkan diri diatas pembaringannya. Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Jika salah seorang dari kalian hendak ke tempat tidurnya, maka hendaklah ia membersihkan tempat tidurnya dengan bagian dalam sarungnya,[12] karena ia tidaklah tahu apa yang terjadi setelah ia tertidur… al-hadits.”

Dalam satu riwayat:

”Jika salah seorang dari kalian mendatangi tempat tidurnya, maka hendaklah ia mengibaskan tempat tidurnya dengan ujung kain bajunya sebanyak tiga kali… al-hadits.”

Dalam riwayat Muslim

“Maka hendaklah ia mengambil sarungnya dan membersihkan tempat tidur dengan sarungnya tersebut dan hendaklah ia menyebut nama Allah, karena sesungguhnya ia tidak tahu apa yang akan terjadi setelahnya.”

Dalam riwayat At-Tirmidzi:

“Jika salah seorang dari kalian bangun dari tempat tidurnya kemudian kembali hendak tidur maka hendaklah ia membersihkan … al-hadits.”[13]

Dari beberapa hadits tersebut terdapat faedah, di antaranya:

Disunnahkannya membersihkan tempat tidurnya sebelum tidur.

Disunnahkannya membersihkannya sebanyak tiga kali sapuan.

Menyebut nama Allah ketika akan beranjak tidur.

Bahwa siapa saja yang bangun dari tidurnya kemudian hendak tidur lagi,maka disunnahkan baginya untuk membersihkan tempat tidurnya kembali dengan sekali kibasan.

Sebab hal itu, sebagaimana penjelasan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:

“Karena ia tidaklah tahu apa yang terjadi di tempat tidurnya setelah ia tidur.”

Di antara hikmah membersihkan dengan mengkhususkan bagian dalam sarungnya bukanlah sebab yang terjangkau oleh pengetahuan kita. Para Ulama berselisih pendapat pada sekian banyak pendapat. Mengamalkan sunnah ini tidaklah dibatasi dengan mengetahui hikmah dari amalan tersebut, melainkan kapan suatu hadits telah shahih mestilah untuk diamalkan, walau hikmahnya tidak diketahui. Dan kembalian dari itu semua adalah kepada ketundukan dan penyerahan diri. Ini adalah dasar yang sangat agung yang anda mesti pegang teguh.

  1. Tidur menghadap sebelah kanan dan meletakkan pipinya di atas tangan kanannya

Terdapat hadits dari Al-Barra` bin Azib -radhiallahu ‘anhu- beliau berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Jika engkau hendak mendatangi tempat tidurmu maka hendaklah engkau berwudhu sebagaimana wudhumu untuk shalat kemudian berbaringlah di atas rusuk sebelah kanan…al-hadits.”[14]

Demikian juga dalam hadits Hudzaifah -radhiallahu ‘anhu-, beliau berkata:

“Apabila Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi tempat tidurnya di malam hari beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan tangannya di bawah pipinya… al-hadits.”

Dalam riwayat Ahmad rahimahullah:

“Jika seorang datang ke tempat tidurnya, letakkanlah tangannya yang kanan di bawah pipinya….”[15]

Tidur dengan berbaring menghadap sebelah kanan mengandung beberapa faedah, di antaranya:

Dengan posisi seperti itu akan membuatnya mudah bangun.

Agar jantung menggantung di sebelah kanan, dengan demikian tidak akan menyulitkan (sirkulasi darah) untuk tidur.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Jauzi -rahimahullah-: “Posisi tidur yang demikian ini , mneurutanalisa para ahli kedokteran lebih baik bagi badan.” Para ahli kedokteran mengatakan: “Memulai tidur dengan menghadap sisi kanan kemudian setelah itu boleh untuk berbalik ke sisi kiri.”[16]

  1. Membaca sebuah surat dari surat-surat dalam Al-Qur`an.

Termasuk petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya beliau tidak tidur sampai beliau membaca sebuah ayat dari Al-Qur`an. Bacaan Al-Qur`an sebelum tidur perumpakan penjagaan bagi seorang Muslim godaan syaithan dalam tidurnya, dan syaithan tidak akan menemani dalam mimpinya.

Ada banyak atsar yang diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berkaitan dengan bab pembahasan ini dan juga sangat beragama lafazhnya. Di sini akan kami sebutkan beberapa yang dapt kami kumpulkan.

  1. Membaca ayat kursi.

Dalam hal ini terdapat kisah dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu ketika ia bersama dengan orang yang mencuri dari perbendaharaan zakat. Ketika Abu Hurairah radhiallahh ‘anhu berkeninginan untuk melaporkannya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, orang tersebut berkata: “ Lepskanlah aku, maukah aku ajarkan satu kalimat yang niscaya Allah akan memberikan manfaat bagimu dengannya?” Aku berkata: “Kalimat apakah itu?” Ia berkata: ”Jika engkau mendatangi tempat tidurmu untuk tidur, maka bacalah ayat kursi,yakni :

Allahu Laa Ilaha illa Huwal Hayyul Qaayum “

Sampai selesai ayat tersebut, maka sungguh Allah senantiasa akan menjagamu dan syaithan tidak akan bisa mendekatimu sampai datangnya waktu subuh.

[Berkata Abu Hurairah -radhiallahu ‘anhu-] maka ia pun aku lepaskan. Dan keesokan paginya, RasulullahShallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku: “Apa yang terjadidengantahanan engkau semalam?” Aku berkata: “Wahai Rasulullah, dia meyakinkanku bahwa dia telah mengajariku beberapa kalimat yang Allah akan memberi manfaat bagiku dengannya, maka akupun melepaskannya.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ Kalimat apakah itu?”

Aku berkata: “ Ia berkata kepadaku, jika engkau mendatangi tempat tidurmu, maka bacalah ayat kursi dari awal sampai akhir ayat, yakni :

Allahu Laa Ilaha illa Huwal Hayyul Qaayum ”, dan ia berkata kepadaku bahwa Allah senantiasa akan menjagaku dan syaithan tidak akan bisa untuk mendekatimu sampai datang waktu shubuh . – dan mereka – yatu para sahabat adalah kaum yang paling bersemangat dalam hal-hal kebaikan-. Maka bersabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Adapun ia, sesungguhnya perkataannya adalah benar namun ia adalah pendusta. Tahukah engkau, siapa yang telah engkau ajak berbincang selama tiga malam itu wahai Abu Hurairah?” Abu Hurairah menjawab: “Tidak”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ia adalah syaithan.”[17]

  1. Membaca surat Al-Ikhlas, dan Al-Mu`awidzatain (Al-Falaq dan An-Naas) kemudian meniup[18] dengan tangannya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa membaca surat Al-Ikhlas dan Al-Mu`awidzatain dan meniupnya di tangannya kemudian mengusapkannya ke seluruh badan yang mampu dijangkau dengan tangan beliau.

Berkata Ummul Mu`minin Aisyah -radhiyallahu ‘anha-:

“Apabila Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak beristirahat di tempat tidurnya pada setiap malamnya beliau menyatukan dua telapak tangannya kemudian meniup kedua te;apak tangannya yang dilanjutkan dengan membaca padanya ‘Qul Huwallahu Ahad’ dan ‘Qul A`udzu birabbil falaq’ serta ‘Qul A`udzu birabbinnas’, kemudian mengusapkan tangannya ke seluruh tubuh beliau yang sanggup beliau jangkau, dimulai dari bagian kepala kemudian wajah kemudian bagian tubuh yang paling dekat dijangkau. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya tiga kali.”[19]

Dari hadits di atas dapat diambil faedah bahwasannya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu melakukannya pada setiap hendak tidur, sebagaimana diperintahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Aisyah -radhiyallahu ‘anha-: “Pada setiap malam.”

Adapun tata caranya adalah dengan meniup kedua telapak tangannya, kemudian mengusapkan dengannya ke seluruh badan yang mampu dijangkau, dimulai dari kepala dan wajah kemudian yang terdekat dari badan.

Faedah lainnya dari hadits ini juga bahwa meniupnya adalah dengan tiga kali tiupan. Kemudian faedah meniup tersebut dimaksudkan untuk mencari barakah dengan hawa basah, dan hawa yang bersinggungan langsung dengan telapak tangan, sebagai bentuk ruqyah dan bagian dari dzikir-dzikir yang baik. Demikian yang diterangkan oleh Al-Qadhi Rahimahullah.[20]

Faedah: Meniup tangan disertai bacaan Al-Ikhlas dan Al-Mu`awidzatain, tidaklah dikhususkan ketika hendak tidur saja bahkan hal itu disunnahkan bagi orang yang merasakan sakit, agar ia meniup kedua telapak tangannya tiga kali kemudian mengusapkan ke tubuhnya. Al-Bukhari meriwayatkan dari hadits Aisyah -radhiyallahu anha-:

“Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika merasakan sakit beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam meniup tangannya kemudian membaca Al-Mu`awidzat kemudian mengusapkan dengannya ke tubuhnya. Maka tatkala beliau dalam keadaan sakit yang sangat. Beliau mulai dengan menyatukan kedua telapak tangan beliau kemudian membaca Al-Mu`awidzat[21] yang kemudian meniupnya dan mengusapkannya ke seluruh tubuh beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”[22]

  1. Membaca surat (Al-Kafirun) sebagai bentuk berlepas diri terhadap kesyirikan.

Dari Farwah bin Naufal dari bapaknya -radhiallahu ‘anhu-: Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Naufal:

“Bacalah ‘Qul Yaa Ayyuhal kaafiruun’ kemudian tidurlah setelah selesai membacanya karena itu merupakan bentuk berlepas diri dari kesyirikan.”[23]

  1. Membaca surat (Tabarak/ Al-Mulk) dan (Alif Lam Mim Tanzil As-Sajdah).

Berdasarkan hadits Jabir -Radhiallahu ‘anhu-:

“Rasulullah belum akan tidur sampai beliau membaca ‘Alif Lam Mim Tanzil As-Sajdah’ dan ‘Tabarakalladzi biyadihil mulk’.”[24]

Faedah: Tentang surat Tabarak terdapat atsar bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyenangi untuk selalu membacanya. Abu Hurairah -radhiallahu ‘anhu- meriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Satu surat dari Al-Qur`an yang tiga puluh ayatnya dapat memberi syafaat bagi yang membacanya sehingga akan diampuni baginya dosa-dosanya yaitu ‘Tabarakalladzi biyadihil mulk’.”[25]

  1. Membaca dua ayat terakhir dari surat Al-Baqarah.

Berdasar hadits Abu Mas`ud Al-Badri -Radhiallahu ‘anhu-: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Dua ayat terakhir dari surat Al-Baqarah, siapa saja yang membacanya pada malam hari telah cukuplah dua ayat tersebut baginya.”[26]

Sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “ telah cukuplah dua ayat tersebut baginya “An-Nawawi -Rahimahullah- mengatakan: “Dikatakan bahwa makna “telah cukuplah dua ayat tersebut baginya” sebagai pengganti shalat al-lail. Ada yang berpendapat telah cukup sebagai penjaga dari syaithan. Ada yang berpendapat sebagai penjaga dari suatu yang membahayakan, dan semua makna tersebut saling menguatkan.”[27]

Terjemahan dari kitab : “Kitab Al-Adab”, karya : Fu`ad bin Abdul Azis Asy-Syalhuub.


[1] . HR. Al-Bukhari, no. 247 dan Muslim, no. 2710.

[2] . HR. Al-Bukhari, no. 6292, Muslim, no. 6012, Ahmad, no. 13816, At-Tirmidzi, no. 1816, Abu Daud, no. 3731, dan Malik, no. 1767.

[3] . Terdapat pada Shahih Al-Bukhari dalam Kitab Al-Isti`dzan no. hadits: 6259.

[4] HR. Al-Bukhari, no. 6293, Muslim, no. 6293, Ahmad, no. 3501, At-Tirmidzi, no. 1813, Abu Daud no. 5246, dan Ibnu Majah, no. 3769.

[5] . Fathul Bari (11/89).

[6] . Lihat pada jilid yang keenam (13/155) no. 2012.

[7] . Fathul Bari (11/90).

[8] . Syarh Muslim. Jilid 6 (13/156) no hadits. 2015.

[9] . HR. Al-Bukhari, no. 247, Muslim, no. 2710, Ahmad, no. 18114, At-Tirmidzi, no. 3574, dan Abu Daud, no. 5046.

[10] No. (18089).

[11] . Syarh Shahih Muslim (17/29).

[12] . Dengan sarungnya maknanya yaitu mengibaskan ujung sarungnya yang berada setelah tubuhnya, dan yang berada pada bagian kanannya apabila dia mengenakan sarung. Karena seseorang yang mengenakan sarung, memulia lipatan sarungnya dari bagian kanan, olehnya itu, bagian inilah yang bersinggungan langsung dengan tubuhnya. Demikian disebutkan didalam Al-Lisaan (11/240) pada bahasan: دخل.

Dan yang semisalnya: (صنفة الثوب) “ bagian dalam pakaiannya “ pada riwayat berikutnya. Maka (صنفة الثوب) yaitu kain yang menempel pada kulit (Lihat Fathul Bari, 11/130)

[13] . HR. Al-Bukhari, no. 6320, 7393, Muslim, no. 2714, Ahmad, no. 7752, At-Tirmidzi, no. 3401, Abu Daud, no. 5050, Ibnu Majah, no. 3784, dan Ad-Darimi, no. 2684.

[14] . Takhrij hadits ini telah disebutkan sebelumnya.

[15]. HR. Al-Bukhari, no. 6314, Ahmad, no. 22733, dan selain mereka berdua hanya saja tanpa menyebutkan “tangan”.

[16] . Fathul Bari (11/113).

[17] . HR Al-Bukhari dalam Kitab Al-Wikaalah, Bab Idza wakala rajulan fatarakal wakiilu syai`a, fa ajawazul muwakkal fahuwa jaiz… kemudian menyampaikan hadits secara mu`allaq. Hadits tersebut diriwayatkan secara maushul pada riwayat An-Nasa`i dan Al-Isma’ili dan Abu Nu`aim… (lihat kitab Fathul Bari, 4/569).

[18] . Meniup maksudnya adalah sesuatu yang lebih ringan dari meludah

[19] . HR. Al-Bukhari, no. 5017.

[20] . Syarh Shahih Muslim Al-Imam An-Nawawi, jilid keenam (14/150)

[21] . Masuk padanya pada keumuman tersebut surat Al-Ikhlas. (Lihat Fathul Bari, 8/680).

[22] . HR. Al-Bukhari, no. 4439), Muslim, no. 2192, Ahmad, no. 24310, Abu Daud, no. 3902, Ibnu Majah, no. 3529, dan Malik, no. 1855.

[23] . HR. Abu Daud, no. 5055 dan hadits ini adalah lafazhnya. Dishahihkan oleh Al-Albani -rahimahullah-, Ahmad, no. 23295, At-Tirmidzi, no. 3403, dan Ad-Darimi, no. 3427.

[24] . HR. Al-Bukhari dalam Kitab Al-Adab Al-Mufrad (1027). Berkata Al-Albani -Rahimahullah-: “Shahih Lighairihi” (917).

[25] .HR. Abu Daud, no. 1400, dan dihasankan oleh Al-Albani -Rahimahullah-. Ahmad, no. 7910, At-Tirmidzi, no. 2891, dan Ibnu Majah, no. 3782.

[26] . HR. Al-Bukhari, no. 4008, Muslim, no. 8*7, Ahmad, no. 16620, At-Tirmidzi, no. 2881, Abu Daud, no. 1397, Ibnu Majah, no. 1368, dan Ad-Darimi, no. 1487.

[27] . Syarh shahih Muslim jilid ketiga (6/76).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: