Kautsar

إن كنت لا تعلم فتلك مصيبة وإن كنت تعلم فالمصيبة أعظم

  • Bookmark & Enjoy

    Bookmark and Share
  • Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

    Bergabunglah dengan 328 pengikut lainnya

  • Follow Kautsar on WordPress.com
  • Al Qur’an Kalamullah

  • Waktu Shalat Hari Ini

  • Radio Online

  • Kautsar’s Blog On Facebook

  • Y!M Status

    : admin1 : admin2
  • Follow | Kautsar On Twitter

    Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

  • Didukung Oleh :

  • Anda pendatang ke...

    • 2,233,517 kali
  • HTML hit counter - Quick-counter.net
  • 100 Blog Indonesia Terbaik
  • KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia
  • Local Business Directory - BTS Local
  • TopOfBlogs
  • Personal Blogs - Blog Rankings
  • Blog directory
  • Blogger SMA Terbaik Indonesia
  • Top 10
  • Bloggerian Top Hits
  • Submit Blog
  • DigNow.net
  • Statistik

  • Kautsarku.wordpress.com website reputation
  • Taklim

    Tegar Di Atas Sunnah Dimasa Fitnah 02 Mp3

Doa Sujud Tilawah dan Sujud Sahwi

Posted by Abahnya Kautsar pada 7 April 2009

Masih berkaitan dengan artikel sebelumnya tentang syari’at sujud sahwi ketika lupa dalam shalat. Artikel berikut ini membahas bagaimana bacaan pada sujud sahwi tersebut oleh Al Ustadz Abu Muhammad Dzulqarnain. Silakan menyimak.

Apa bacaannya pada saat sujud tilawah atau sujud sahwi?

Adapun sujud tilawah ada dua hadits yang menjelaskannya, tapi keduanya adalah hadits dho’if (lemah).

Satu : Hadits ‘Aisyah -radhiyallahu ‘anha- :

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ  يَقُوْلُ فِيْ سُجُوْدِ الْقُرْآنِ بِالْلَيْلِ سَجَدَ وَجْهِيْ لِلَّذِيْ خَلَقَهُ وَشَقَّ سَمْعُهُ وَبََصَرُهُ بِحَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ

“Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau membaca dari sujud Al-Qur’an (sujud tilawah-pent.) pada malam hari : “Telah sujud wajahku kepada Yang Menciptakanku, maka beratlah pendengaran dan penglihatan karena kemampuan dan kekuatan-Nya”. Dan dalam riwayat Hakim ada tambahan : “Maka Maha Berkah Allah sebaik-baik pencipta”. Dan dalam riwayat Ibnu Khuzaimah : “Beliau mengucapkannya tiga kali”.

Hadits ini diriwayatkan oleh Ishaq bin Rahaway dalam Musnadnya (3/965 no.1679), Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf (1/380 no.4372), Ahmad dalam Musnadnya (6/30), At Tirmidzy (2/474 no.580) dan (5/456 no.3425), An-Nasai (2/222 no.1129) dan Al-Kubro (1/239 no.714), Abu Ahmad Al-Hakim dalam Syi’ar Ashhabul Hadits (no.82, 83), Ibnu Khuzaimah (1/382), Hakim (1/341-342), Ad-Daraquthny (1/406), Al-Baihaqy (2/325), Abu Syaikh Al-Ashbahany dalam Ath-Thobaqat (3/513) dan Ath-Thobarany dalam Al-Ausath (4/9 no.4376).

Semua meriwayatkan hadits ini dari jalan Khalid bin Mihran Al-Hadzdza` dari Abul ‘Aliyah dari ‘Aisyah.

Cacat yang menyebabkan hadits ini lemah adalah Khalid bin Mihran tidak mendengar dari Abul ‘Aliyah. Berkata Imam Ahmad : “Khalid tidak mendengar dari Abul ‘Aliyah”. Baca : Tahdzib At-Tahdzib dan Jami’ At-Tahshil karya Al-‘Ala`i.

Dan Ibnu Khuzaimah dalam Shohihnya menegaskan bahwa sebenarnya antara Khalid dan Abul ‘Aliyah ada perantara yaitu seorang rowi mubham (seorang lelaki yang tidak disebut namanya-pen.).

Saya berkata : Apa yang disebutkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Khuzaimah ini memang benar karena Khalid bin Mihran dari seluruh referensi yang disebutkan di atas ia meriwayatkan dari Abul ‘Aliyah dengan lafadz ‘An (dari) sehingga riwayat Khalid ini dianggap terputus dari Abul ‘Aliyah apabila telah terbukti ada riwayat lain menyebutkan ada perantara antara Khalid dengan Abul ‘Aliyah.

Dan ternyata ada riwayat dari jalan ‘Isma’il bin ‘Ulayyah dari Khalid bin Mihran dari seorang lelaki dari Abul ‘Aliyah dari ‘Aisyah -radhiyallahu ‘anha-.

Riwayat ‘Isma’il bin ‘Ulayyah ini dikeluarkan oleh Ahmad dalam Musnadnya (6/217), Abu Daud (2/60 no.1414), Ibnu Khuzaimah (1/283) dan Al-Baihaqy dalam Al-Kubro (1/325) dan As-Sughro (1/509).

Maka bisa disimpulkan bahwa hadits ‘Aisyah ini adalah hadits yang lemah karena Khalid tidak mendengar dari Abul ‘Aliyah dan perantara antara keduanya adalah seorang rawi mubham. Karena itulah hadits ini disebutkan oleh Syaikh Muqbil bin Hady Al-Wadi’y -rahimahullahu- dalam Ahadits Mu’allah Zhohiruha Ash-Shihhah hadits (no. 395).

Kedua : Hadits Ibnu ‘Abbas -radhiyallahu ‘anhuma-

قَرَأَ النَّبِيُّ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ  سَجَدَةً ثُمَّ سَجَدَ فَسَمِعْتُهُ وَهُوَ يَقُوْلُ  اللَّهُمَّ اكْتُبْ لِيْ بِهَا عِنْدَكَ أَجَرًا وَضَعْ عَنِّيْ بِهَا وِزْرًا وَاجْعَلْهَا لِيْ عِنْدَكَ ذَخَرًا وَتَقَبَّلْهَا مِنِّيْ كَمَا تَقَبَّلْتَهَا مِنْ عَبْدِكَ دَاوُدَ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca satu ayat dari ayat-ayat sajadah lalu beliau sujud kemudian beliau membaca doa : “Wahai Allah tulislah untukku dengannya disisiMu sebagai pahala dan letakkanlah dariku dengannya dosa dan jadikanlah untukku disisiMu sebagai modal dan terimalah dariku sebagaimana Engkau menerima dari hambaMu (Nabi) Daud”.

Hadits ini diriwayatkan oleh at Tirmidzy (2/472 no.549) dan (5/455-456 no.3424), Ibnu Majah (1/334 no.1053), Ibnu Khuzaimah (1/282-283 no.572-573), Ibnu Hibban sebagaimana dalam Al-Ihsan (6/473 no.2568) dan Al-Mawarid (no.691), Al-Hakim (1/341), Al-Baihaqy (2/320), Abu Ahmad Al-Hakim dalam Syi’ar Ashhabul hadits (no.84), Ath-Thobarany (11/104 no.11262), Al-‘Uqoily dalam Ad-Dhu’afa` (1/242-243), Al-Khalily dalam Al-Irsyad (1/353-354) dan Al-Mizzy dalam Tahdzib Al-Kamal (6/314).

Semuanya meriwayatkan dari jalan Muhammad bin Yazid bin Hunais dari Hasan bin Muhammad bin ‘Ubaidillah bin Abi Yazid berkata kepadaku Ibnu Juraij : “Wahai Hasan, kakekmu ‘Ubaidillah bin Abi Yazid mengabarkan kepadaku dari Ibnu ‘Abbas”.

Saya berkata : Dalam hadits ini ada dua cacat :

1.       Muhammad bin Yazid bin Hunais.

Abu Hatim berkomentar tentangnya : “Syaikhun sholihun (Seorang Syaikh yang sholeh)”. Dan Ibnu Hibban menyebutkannya dalam Ats-Tsiqot maka rawi seperti ini tidak dipakai berhujjah kalau bersendirian karena itu Al-Hafidz menyimpulkan dari Taqrib At-Tahdzib : ”Maqbul (diterima haditsnya kalau ada pendukungnya, kalau tidak ada pendukungnya ia adalah layyinul hadits (lembek haditsnya)”.

2.       Hasan bin Muhammad bin ‘Ubaidillah.

Adz-Dzahaby berkomentar tentangnya : “Berkata Al-‘Uqoily : “laa yutaba’u ‘alaihi (Ia tidak mempunyai pendukung)” dan berkata yang lainnya : “Padanya (Hasan bin Muhammad) ada Jahalah (tidak dikenal)”. Maka rawi ini juga tidak dipakai berhujjah kalau bersendirian. Apalagi Imam At-Tirmidzy menganggap bahwa hadits ini adalah hadits ghorib. Dan istilah hadits ghorib menurut Imam At-Tirmidzy adalah hadits lemah. Wallahu A’lam.

Kesimpulan :

Tidak ada hadits yang shohih tentang doa sujud tilawah maka kalau seseorang membaca ayat dari ayat-ayat sajadah dalam sholat kemudian ia sujud maka ia membaca doa seperti yang ia baca dalam sujud sholat. Ini merupakan pendapat Imam Ahmad sebagaimana dalam Al-Mughny (2/362) dan Masail Imam Ahmad riwayat Ibnu Hany (1/98).

Adapun kalau sujud tilawahnya di luar sholat maka tidak ada syariat membaca doa apapun. Wallahu A’lam.

Adapun doa sujud sahwi kami tidak mengetahui ada doa yang khusus pada sujud sahwi tersebut mungkin karena itu Imam Ibnu Qudamah berkata bahwa yang dibaca dalam sujud sahwi adalah sama dengan apa yang dibaca pada sujud sholat.

Baca : Al-Mughny (2/432-433). Wal ’Ilmu ‘Indallah.

Sumber artikel : http://an-nashihah.com/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: